Gara2 baca postingan mba Ria tentang Halal/haram Software bajakan, Gw jadi inget tulisan lama Gw **Tahun 2007** di blog friendster Gw, tentang software open source. Dan Gak sengaja, Gw juga lihat ada tulisan Gw tentang Sinetron Indonesia, rasanya Gw jadi pengin repost tulisan itu sebagai kritik buat Sinetron Indonesia. Berikut tulisannya:
Malu memang terbesit di hati tiap masyarakat Indonesia, bila melihat karya sineis Indonesia kalah bersaing dengan karya – karya dari luar negri ( terutama dari negri paman sam ), di dalam negri sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin ini yang sering terbesit di hati, bukannya kita tidak cinta negri sendiri, tetapi apa daya, memang film – film kita terutama sinetronnya masih kalah jauh bila dibandingkan karya -karya luar.
Saya sebagai seorang penikmat (penonton) karya – kraya mereka dapat dengan mudah melihat kelemahan – kelemahan karya anak bangsa. Banyak film yang dibuat tidak berdasarkan fakta, dan terkadang sangat di luar logika (seakan – akan kita sedang bermimpi/berkhayal, bukan sedang menonton sebuah film). Beberapa contoh yang sangat mencolok adalah:
1.Monolog yang tak perlu
Memang didalam sebuah film, terkadang di perlukan sebuah monolog untuk membantu penonton memahami alur cerita, tetapi apakah perlu penonton mengetahui semua isi hati para pemain? Apakah perlu penonton di beritahukan kembali melalui monolog tentang kejadian yang telah terjadi dengan jelas? Ini yang terjadi dengan film – film (terutama sinetron) Indonesia.Penonton yang sejatinya merupakan orang pertama atau orang ketiga dalam sebuah film, tidak mungkin mengetahui isi hati dari setiap pemain. Hanya Sutradara dan penulis naskah lah yang seharusnya mengetahui isi hati dari tiap pemain. Tetapi dalam film -film Indonesia, umumnya, penonton dapat mengetahui dengan jelas maksud hati dari tiap pemain, sehingga sangat mudah menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Penonton di perlakukan sebagai tuhan dalam (hampir) setiap sinetron indonesia. Mengapa demikian? Karena penonton mengetahui semua maksud hati pemain. Loh kenapa bisa begitu? Jelas saja bisa, karena setiap pemain pasti mengucapkan maksudnya secara lisan-monolog.
Selain masalah isi hati, monolog pada sinetron Indonesia juga sangat aneh, beberapa hari yang lalu saya menonton sinetron yang pemainnya selalu menyebutkan kejadian yang sebenarnya saya sudah tahu. Sebagai contoh, seorang pemain mengatkan: ‘Loh kemana kuda itu akan pergi? Apakah akan ke air terjun itu? Hai dia menembus air terjun itu.. kemana dia akan pergi ya? Aku harus mengikutinya sebelum air terjun itu menutup kembali’ padahal kejadian kuda itu jelas – jelas ditampilkan, dan saya tahu kuda itu masuk ke air terjun. Itu tidak lah seberapa, yang lebih mngejutkan, ketika pemain itu masuk ke air terjun, dan air terjunnya menghilang, kemudian berubah menjadi hutan yang lain, pemain itupun berkata: ‘aku dapat menembus air terjun ini? Loh air terjunnya menghilang, ini dimana? Mengapa hutannya berubah? Aku tak mengenal hutan ini’, saya dan teman saya langsung tertawa melihat kejadian itu. 5 menit yang terbuang percuma untuk monolog yang tidak perlu.
2.Penggunaan alat – alat penunjang yang tidak di persiapkan secara baik
Kadang kala, dalam sebuah film di perlukan alat -alat yang bila dalam ke adanya nyata memang seharunya ada, sebagai contoh: dalam rumah sakit, seorang pasien yang sekarat dan sulit bernapas memerlukan alat bantu pernapasan, serta alat monitor kehidupan. Tetapi dalam kehidupan nyata, alat – alat itu dinyalakan, sedangkan di sinetron yang pernah saya tonton, alat-alat itu tidak ada yang hidup. Alat bantu pernapasan (tabung oksigen) tidak menunjukan adanya udara yang keluar, jarum penunjuk takanannya menunjukan angka nol, dan alat monitor kehidupannya tidak hidup ( dalam keadaan mati).Apakah mungkin si sutradara tidak menyadarinya? Ya mungkin saja, bila memang hal – hal kecil itu tidak dipersiapkan dengan baik. Memang penonton dapat mengerti maksud adaanya alat – alat itu, tapi bukan kah sebuah film harusnya mendekati kenyataan? Ini hanya contoh dari sekian banyak kejadian dalam sinetron Indonesia yang tidak memperhitungkan dan mempersiapkan alat -alat pembantu yang di gunakan.
3.kejadian – kejadian yang tidak masuk diakal
Mengapa saya katakan tidak masuk diakal? Karena ya memang bila dalam kehidupan nyata, kejadian – kejadian yang akan saya contohkan ini tidak mungkin dapat terjadi, kecuali kita sedang bermimpi atau berkhayal. Apa saja kejadian yang tidak masuk diakal itu? Contoh yang pertama: kemarin saya menonton sinetron, ketika seorang wanita lewat lorong / gang rumahnya yang kecil (kurang lebih lebarnya < 2m) tidak ada seorang pun di jalan itu. Tapi tidak kurang dari satu menit monolog ketika ia salah membawakan kolak untuk adiknya yang sudah tidak ada di rumah, tiba – tiba di belakangnya ada anak kecil yang sedang duduk lemas kelaparan dan meminta di beri makan. Aneh kan, darimana datangnya anak itu? Bila memang duduk aja dia lemas begitu, tak mungkin kan dia baru datang, dan sinetron itu bukan sinetron takhyul loh. Jadi si anak kecil itu bukan setan yang bisa tiba – tiba muncul.Satu contoh lainnya, ketika seorang manusia secara tidak sengaja dikubur hidup – hidup, dari sore hingga magrib. Tahu – tahu ia bisa keluar sendiri dengan menggali tanahnya kembali dan dalam keadaan hidup. Pesulap pun butu trik penipuan untuk melakukannya, tapi bagai mana bisaa hansip biasa yang bego dapat melakukan hal itu? Sungguh tak masuk diakal.
Itu baru 3 dari kelemahan sinetron Indonesia, sebetulnya masih banyak lagi, tatapi saya belum bisa mengkategorikannya. Bukannya tidak suka sinetron Indonesia, dan bukan pula menjatuhkan sinetron – sinetron Indonesia, tapi hanya sebagai koreksi buat para keluarga besaar perfilman Indonesia. Tolong maafkan saya bila ada yang tersinggung
Saya tidak dapat menyebutkan judul – judul sinetron diatas, karena selain takut dikatakan diskriminatif, saya lupa judul beberapa film nya
Tulisan ini dibuat di gandiwibowo.blog.friendster.com pada tanggal 21 september 2007, pukul 01:00 WIB (jam satu malam), kalo gak salah pas bulan Ramadhan.